Fiersa Besari

April 10, 2017

Ga pernah ga jatuh cinta sama kalimat-kalimat yang dibikin sama Aa’ Bandung 1 ini. Hampir semua kutipan di blogku pake punya dia. Foto dia, cerita petualangan dia, hobi dia, kicauan dia di Twitter, semua favorit banget. Suka tiap dia update foto kecenya pas daki gunung, jalan di daerah mana, atau foto apapun di instagram selalu diselipin kalimat yang bikin nyess di hati kadang juga lucu. Ini foto-foto dia.

Citaman, Pandeglang

Cinta selalu bersemi di tempat, waktu, dan situasi yang tak terduga. Ia laksana mentari di tengah musim penghujan; hijau di antara gersang. Dan aku hanya mampu menjadi korban dari kerinduan yang mencekik; memaksaku kembali pada belaiannya. Jarak hanyalah angka. Perasaanku takkan bisa kau hitung. (Fiersa Besari)

***
Dia emang slalu bisa dijadiin inspirasi


Aku ingin narsis, tapi kali ini bukan foto wajah. Perkenalkan, ini paru-paruku (dalam visualisasi x-ray, tentunya).
Kali ini aku ingin cerita tentang paru-paruku: sahabat bernapas yang sering kuperlakukan semena-mena. Awalnya sebulan-setengah yang lalu, paru-paruku bertindak tidak wajar. Dari batuk kering tiada henti—yang makin hari makin parah—hingga sesak napas sampai tidak bisa bangun dari tidur. Akhirnya aku menyerah dan pergi untuk check up di rumah sakit terdekat.

Setelah lebih dari satu dekade paru-paruku mengisap rokok bagai kereta, dan sang pemilik paru-paru merasa dirinya kebal dari penyakit, akhirnya dokter memvonisku. Akhirnya paru-paruku menyerah. Enggak perlu disebut lah, ya, penyakitnya apa. Intinya, ultimatum dari sang dokter adalah, "Masih mau hidup lama? Jangan merokok lagi." Aku teringat sahabatku pernah mengutip kata-kata Socrates, "Manusia tidak akan berubah menjadi lebih baik sebelum dia melihat bahwa dia membutuhkannya."
Aku rasa, pada satu titik, dia benar. Tampaknya ini cara Tuhan mengingatkanku bahwa aku manusia, dan bahwa aku harus mengubah pola hidupku.

Well, giving up smoke is not easy. Hell, it's super difficult. But, sure, I'll try. I still want to have kids of my own and see them grow up. (Fiersa Besari)

***



Jangan biarkan aku menjadi kaum merugi yang hanya kenal wajah Bumi yang dipenuhi beton dan polusi. Jangan biarkan aku sibuk tenggelam dalam dunia maya, hingga lupa caranya berdansa di bawah rembulan.
Dan, jika kelak aku mati, semoga aku mati dalam pelukan alam raya. (Fiersa Besari)

***



Wanita karier memang keren, tapi kau menggendong carrier, jauh lebih keren.
Saling mengikat hati dengan janji memang manis, tapi saling melindungi dengan perbuatan, jauh lebih manis.
Menonton film sambil merebahkan kepalamu di pundakku memang terkenang, tapi menatap jutaan bintang sambil merebahkan kepalamu di pundakku, jauh lebih terkenang.
Bergandengan tangan di sudut kota memang romantis, tapi berpegangan tangan ketika mendaki, jauh lebih romantis.
Aku menyayangimu bukan karena kau menungguku di puncak kesuksesan, tapi karena kau menemaniku melewati suka dan duka. (Fiersa Besari)

***

Mt. Gamalama, Ternate, North Moluccas, Indonesia, August 2013


Ibu Pertiwi menangis lara. Menunggumu untuk mengulurkan tangan dan membantu. Negeri ini tanah surga, Kawan. Namun, Sang Saka sedang terluka. (Fiersa Besari)
***


Merbabu, Indonesia, March 2015

Setiap kali kau menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan, aku hanya bisa memelukmu dan mendongengkan tentang tempat imajiner kesukaanmu. Di mana sabana terbentang luas dan kita menggantungkan ayunan di pohon besar. Lalu aku membuatkanmu rumah kayu. Dan kita hidup bahagia selamanya.
Sayangku, kita akan pulang. (Fiersa Besari)


***




You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Sponsor

Subscribe